Sabtu, 22 Mei 2010 | By: Cahaya Vigra

Refleksi Tokoh : Soe Hok Gie

Soe Hok Gie "the angry Yong Man" siapa yang tidak kenal si cina kecil ini. aktivis mahasiswa yang mamp[u menggegerkan kursi-kursi empuk DPR orde lamadengan teriakan-teriakan dan tulisan-tulisannya disejumlah media masa yang menuntut keadilan pemberantasan korupsi. pahlawan yang tak pernah tercatat di buku buku sejarah SD,SMP, maupun SMA.
Soe Hok Gie, warga Indonesia berdarah Tiong Hoa ini lahir pada tanggal 27 Desember 1941. Gie sangat prihatin terhadap keadaan rakyat Indonesia pada saat itu yang menjadi korban keculasan para pemimpin pemimpin rakyat. setidak-tidaknya rasa itu muncul sejak ia masih berusia belasan tahun. penilaiannya tentang dunia politik adalah pada dasarnya kotor.pandangan inilah yang menjadi dasar pembelaan Gie akan kekuatan moral dalam politik diawal tahun 1966.
Gerak langkah Gie yang kukuh untuk menumbangkan kepemimpinan Seokarno mulai terorganisir ketika ia duduk dibangku kuliah. Menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS-UI). Disinilah ia mulai mengembangkan jiwa pemberontakannya untuk melawan apa pun yang ia anggap salah dalam pemerintahan khususnya. Wawasannya yang luas dikarenakan kegemarannya membaca menjadi salah satu modal dasar setiap agrumennya. Gie Bahkan pernah terlibat perdebatan sengit antara ia dan dosennya.
Pernah juga Gie kecewa kepada teman-temannya angkatan 66 yang ikut duduk dalam jajaran DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) yang memang menyediakan kursi untuk para mahasiswa. Teman-temannya yang di delegasikan sudah tidak sesuai lagi dengan ideoligi aktivis mahasiswa lainnya yang mengharapkan perubahan pemerintah menjadi lebih baik. Mereka terlalu menikmati kenyamanan kursi DPRGR sehingga lupa apa tujuan mereka dikirim menjadi duta hamasiswa di jajaran DPR. Parahnya mereka saling berebut jabatan yang lebih tinggi. hal iniyang mambuat Gie gerah, ia dan teman temannya yang masih seideoligi membuat gebrakan dengan mengirirm kado lebaran dan natal kepada segenap jajaran DPRGR yang berisi pemulas bibir, cermin jarum dan benang disertai surat terlampir.
Gie, meninggal di usai muda, 27 tahun kurang satu hari, tepatnya tanggal 26 desember 1969 di puncak Gungung Semeru, Jawa Timur. Berpulangnya ia adalah sebuah pukulan berat bagi para masyarakat pada masanya. Gie, pemuda yang idealis bukan remaja yang hedonis. Gie, adalah aktivis pencinta alam yang tergabung dalam Mapala FS-UI. Kegemarannya mendaki gunung pula salah satu yang menumbuhkan sikap nasionalismenya. Gie adalah Gie. kepergiannya meninggalkan banyak karya tulis termasuk buku hariannya yang telah dibukukan pada tahun 1980an. Saah satu quote yang diambil dari buku hariannya :
"Seorang filsuf Yunani mengatakan. Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda"
Buku harian ini lah yang menjadi salah satu karya besar Riri Riza dalam dunia perfilman. Nicolas Saputra sebagai pemeran Gie.
Soe Hok Gie, adalah sosok kativis yang tidak kenal lelah untuk mencapai visi dan misi yang menjdi tujuannya. inilah yang patut kita tauladani. Pergolakan jiwa muda yang tak terbendung melahirkan jiwa jiwa idealis dengan moral dan pemikiran yang luas. Meskipun dalam perjalanannya banyak mulut-mulut kasar mengencamnya, oknum oknum tersembungyi mengincar nyawanya. Tapi Gie adalah macan mimbar, tak takut oleh cercaan orang-orang yang berfikiran pendek. orang-orang yang selalu mengatakan "anti cina" yang meneriakan pada Gie bahwa ini Indonesia, bukan tanah cina. tanah keturunan Gie. Tapi Gie adalah seorang remaja Indonesia sejati yang berjuang demi harkat dan martabatbangsanya.
Jumat, 07 Mei 2010 | By: Cahaya Vigra

Do'aKu

ketika ku buka mataku
ku ingin hanya senyumnya yang menyambutku
ketika ku dengar suara
ku ingin hanya tawanya yang menghangatkan
ketika ku hirup udara pagi
ku ingin hanya harum nafasnya yang melegakan
ketika ku rasakan gejolak dalam jiwaku
ku ingin cintanya lah yang mengisi seluruh duniaku

Tuhan, besarnya ciptaanMu...
Indahnya KaruniaMu...
Luasnya AnugrahMu...
ajarilah hamba untuk mensyukuri di setiap titiknya
ajarilah hamba untuk berhenti mengkufuri semua Kasih SayangMu
Jagalah jiwa kami dalam kesucian CintaMu
Selasa, 20 April 2010 | By: Cahaya Vigra

Sayang

mengapa Romeo begitu mencintai Juliet
mengapa Majnun gila karna Laiyla
mengapa Siti Nurbaya hancur karna cintanya pada Samsul
dan mengapa Cleopatra dan Mark Anthony rela buhun diri demi cintanya

semuanya terlalu tragis
terlalu untuk sebuah cerita cinta manusia...
jika romeo tak bertemu juliet, mungkin romeo dapat hidup bahagia tanpa melakukan kebodohan itu, dan juliet bisa menikan dengan laki laki yang tak kalah baik dari romeo
jika majnun tak jatuh cinta pada layla, majnun masih waras dan mampu melanjutkan aktifitasnya seperti biasa, dan layla tak harus selalu bersedih
jika Siti Nurbaya tak terlanjur berjanji pasa Samsul, mungkin Siti Nurbaya akan menjadi istri Saudagar kaya, dan samlul bisa fokus untuk mencari apa yang ia cari tanpa terganggu akan janjianya
jika Cleopatra tidak buta larna cintanya pada Mark Anthony mungkin Cleopatra masih berjaya menjadi ratu mesir dan Mark Anthony masih dengan gagah memegang panji Mesir dalam setiap perang dan lahir kepemimpinan seperti dirinya dari rahim wanita yang tak kalah baik dari Cleopatra...

fenomena cinta tak kan hilang dari setiap sudut kehidupan manusia... mungkin ia akan selalu menggelayuti jiwa muda maupun tua... padahal, pada hakikatnya cinta itu bukanlah hanya kesetiaan dan pengorbanan tanpa arah dan mata, pengorbanan disini adalah pengorbanan dengan bimbingan, kesetiaan disini adalah kesetiaan tanpa pamrih.

tak selamanya cinta itu dapat dipandang suci jika dalam pelaksanaanya penuh dengan nafsu memiliki satu sama lain. itukan cinta suci yang banyak disebut kaula muda kini? ironis
Sabtu, 17 April 2010 | By: Cahaya Vigra

Hadirmu

Kini kita terdiam... berhadapan
tanpa kata...tanpa suara...
menatap mata satu sama lain
meski mulut enggan berucap
(hinggar bingar seakan tak terdengar... sekitar hilang tanpa bayang)
hanya tinggal aku dan dirimu
berdiri dalam ketidak pastian
berpijak pada bumi yang terus goyah
tangan dinginmu mulai sentuh pipiku
hapuskan airmata ketakutanku
tenangkan semua gelisahku
(angin berhembus membawa kabut hitam... semuanya terlihat semakin kelam)
tanpa ku sadar semuanya berlahan kabur
tubuhmu adalah debu
semuanya berhambur...
dirimu dah hatiku
kau hilang... hilang tinggalkan semua tanpa arah
hanya harum nafasmu yang masih mampu aku hirup
rasuki setiap rongga hidup
sekedar hilabngkan penat yang menusuk
tuk kembali terjaga dalam malam tanpa bayangmu
Kamis, 15 April 2010 | By: Cahaya Vigra

Pelajar?

Pelajar...
pelajar adalah seorang pejuang, dimana dia akan memperjuangkan ilmu pengetahuan yang ia dapatkan di bangku pendidikan untuk kembali ia salurkan kepada masyarakat lainnya. tapi, dimanakah wajah wajah pelajar zaman sekarang, semuanya berkedok... semuanya memprihatinkan...
hanya ada kebohongan kebohongan dalam pembelajarana... menyontek... melobi... untuk hal hal yang tak terlalu penting...
nilai? itukan yang mejadi tolak ukur seorang pelajar? TIDAK... pendidikan bukan hanya untuk mencari intelektuan dan akal kawan, apalagi nilai tapi juga sosial, mental dan moral...
apa jadinya dikemudian hari seorang yang sudah mengenyam bangku pendidikan tanpa sosial yang baik...? ia tak mampu berinteraksi dengan lingkungannya? al hasil.. hanya menambah kepadatan penduduk indonesia saja.
apa jadinya dikemudian hari seorang yang sudah mengenyam bangku pendidikan tanpa mental yang kuat...? hanya mampu sembunyi dibalik ketiak orang tuanya? atau hanya jadi benalu bagi sekitarnya?
apa jadinya dikemudian hari seorang yang sudah mengenyam bangku pendidikan tanpa moral yang benar...? bukan jadi seorang intelektual tapi hanya akan menjadi kriminal.
dalam arti kasar, orang orang yang hanya mengandalkan nilai dan nilai tanpa sosial, mental dan moral tak ubahnya sampah masyarakat.
dari situ kawan. mulailah benahi sudah benrkah kita menjadi seorang pelajar? atau hanyan seorang pelajar yang tak memiliki kualitas? tak memiliki bobot...
jika pelajar indonesia saja seperti ini, akan jadi apa indonesia dikemudian hari?
sebuah pertanyaan yang selalu menggelitik hati...
dimana akan aku temukan Soe Hok Gie di era moderenisasi ini?
Jumat, 09 April 2010 | By: Cahaya Vigra

Untuk Sahabat sahabatku

Ah, kadang aku merasa berjuang sendiri... tak ada teman, tak ada topangan. hanya ada aku dan perjuangan. tapi, ketika aku menatap wajah teman2 seperjuanganku, meskipun kita terpisah, tp disana aku temukan kekuatan baru. kekuatan yang terus mendorongku untuk tetap konsisten di jalanku. konsisten dalam perjuanganku.

Aku sadar, aku tak sendiri. meski jarak dan waktu memisahkanku dengan teman temanku. tapi itu tak menyurutkan semangat kita kawan! kalianlah yang telah mengenalkanku dengan perjuangan ini. tanpa kenal lelah, tanpa kenal kalah. kitalah pemenang!

Saat semuanya berjalan kembali seperti semula. seperti yang ku mau. aku merasa aku lah orang yang paling beruntung kenal dengan kalian kawan! kliaan adalah sahabat terbaik dalam hidupku. terima kasih... terima kasih... terima kasih....
Senin, 05 April 2010 | By: Cahaya Vigra

Arti Perjuangan untukku

Perjuangan kawan, perjuangan yang kita tak akan pernah usai. hingga nafas terbang menjauhi badan. perjuangan kawan, pejuangan yang mempertemukan kita dalam satu asa dalam satu cita. perjuangan kawan, perjuangan yang mendidik kita untuk berdiri. perjuangan yang mengajarkan kita untuk teguh berjalan, perjuangn yang mewarnai hidup kita, perjuangan yang memberi lukisan indah dalam hidup kita, perjuangn yang mengajariku arti hidup, kesetiaan, ketulusan, dan keikhlasan.
mungkin tak selamanya perjuangan itu mudah, ada kalanya ia terjal lagi sulit. kadang ia menerjangmu bak ombak. tapi kawan, kita adalah angin, yang kan terus behembus meski gunung dihadapan, kita adalah batu karang yang tetap teguh meski ombak menerjang...
dalam memaknai perjuangan ini kawan, kita terjebak dalam satu janji... janji yang membawa pada kasih Illahi... janji ikrar untuk tetap berjuang hingga titik darah penghabisan
terus berjuang kawan...
Allah bersama kita..